Saturday, July 14, 2012

Marius AP di Mata Sahabatnya




Jum'at, 13 Juli 2012 , 13:57:00
 

Tabrani Hadi, Komisaris Utama PT Akcaya Utama Press Pontianak Post. Foto Shando/Pontianak Post
PONTIANAK – Meninggalnya Marius AP (Pek Tjhong Hian), Minggu (8/7) pagi kemarin, sangat dirasakan oleh Komisaris Utama PT Akcaya Utama Press Pontianak Post, Tabrani Hadi. Di mata Tabrani, Pak Apeh, sapaan Marius AP, merupakan orang yang suka membantu tanpa mengharapkan imbalan. “Pak Apeh membantu tanpa perhitungan dan tidak mengharapkan imbalan,” kata Tabrani, kemarin (10/7).

Dia menjelaskan, Pak Apeh adalah orang yang sangat baik kepada semua orang. Dia tidak membeda-bedakan, siapa orang yang ada di hadapannya. Baginya semuanya sama. Namun, yang sangat melekat diingatan Tabrani adalah, kebaikan dan bantuan yang tidak pernah mengharapkan imbalan. Pertama keduanya saling mengenal, sekitar pada tahun 1980-an. Ketika itu, Tabrani masih menjadi Pimpinan Umum Pontianak Post. Di awal perkenalan keduanya, mereka saling membatu dikala yang satu membutuhkan. Bahkan, Tabrani masih ingat betul kalau Pak Apeh selalu menyerahkan foto-foto dari hasil karyanya kepada Pontianak Post yang saat itu masih AKCAYA.

Sampai saat ini, karyanya yang pernah diberikan kepada Pontianak Post tidak pernah mengharapkan bayaran dari Pontianak Post. Di sisi lain, Apeh juga dikenal sebagai penulis berita. “Ada foto bagus diserahkan ke Pontianak Post,” lanjut Tabrani saat ditemui di kediamannya. Bagi Tabrani, sosok Apeh merupakan orang yang baik hati dan suka menolong. Selain itu, karyanya tidak hanya sangat bagus, tapi juga menarik dan indah. Tidak heran, jika dia dikenal sebagai fotografer senior yang handal. “Saya mengenal dia tidak hanya sebagai fotografer saja, namun dia juga orangnya sangat ramah, pengusaha yang berhasil dan kenal kepada semua orang,” tambahnya.

Di samping itu, dia juga merupakan orang yang sangat berpengaruh atas berdirinya koran Kun Dian Ri Bao yang juga anak induk perusahaan Pontianak Post. Dia merupakan satu dari tiga orang yang mendirikan koran Mandarin itu. Mereka adalah Tabrani Hadi, Marius Apeh dan Hendry Jurnawan. Awalnya, untuk mendirikan koran Mandarin timbul ide dari Tabrani. Namun, Tabrani tidak memiliki keahlian dalam Bahasa Mandarin. Akan tetapi, Tabrani masih ingat, kalau dia memiliki teman yang bisa berbahasa Mandarin, yaitu Marius Apeh dan Hendry Jurnawan.

Mereka bertiga inilah serta bantuan dari staf dan orang-orang Pontianak Post, koran Kun Dian Ri Bao akhirnya berdiri dan bertahan hingga saat ini. “Saya tidak tahu Bahasa Mandarin, makanya minta bantuan sama Apeh dan Jurnawan,” jelas Tabrani. Sebelum Jawa Pos mendirikan koran Mandarin (Gou Ji Ri Bao), Pontianak Post sudah mendirikan koran Mandarin, yaitu Kun Dian Ri Bao. Karena masih belum ada koran Mandarin, Kun Dian Ri Bao mendapat bantuan dari koran Mandarin di Kuching, Serawak, Sin Chew Ri Bao.

Koran Kun Dian Ri Bao didirikan pada 25 Juni 2001. Beberapa tahun kemudian, Jawa Pos mendirikan koran Mandarin yaitu, Gou Ji Ri Bao. Karena Jawa Pos sudah memiliki koran Mandarin, akhirnya Kun Dian Ri Bao bekerjasama dengan dengan koran Mandarin anak induk Jawa Pos. Tabrani sempat menjadi Pimpinan Umum koran Kun Dian Ri Bao. Namun, karena dia tidak bisa memahami kepada tulisan dan bahasa Mandarin, akhirnya dia menyerahkan kepada Pak Apeh. Beberapa tahun yang lalu, dia kurang aktif lagi di koran. Meskipun sudah kurang aktif, namun Tabrani melarang nama Marius Apeh dicoret dari Pimpinan Umum. “Kalau tidak ada dia (Marius Apeh), mungkin tidak ada koran Kun Dian Ri Bao,” ungkap Tabrani.

Terakhir kali Tabrani bertemu dengan Pak Apeh sebulan yang lalu. Keduanya bertemu di ruangan Tabrani. Setelah pertemuan itu, Pak Apeh sakit dan masuk rumah sakit dan akhirnya meninggal dunia. Pertemuan itulah yang menjadi pertemuan terakhir dari kedua sahabat ini. Tabrani menjelaskan, sebelum dia meninggal, dia masih sering bertemu.

Terkadang mereka bertemu di kantor, terkadang juga mereka bertemu di rumah. Jika salah satunya tidak sempat untuk mendatangi, maka yang satunya lagi yang menghampirinya kerumah. “Sering main dan datang kerumah,” ungkapnya. Kini, dia sudah tiada. Teman dekat yang selalu membantu tanpa pamrih, baik kepada orang yang dia kenal maupun yang tidak dia kenal, saat ini sudah pergi jauh. Namun meskipun demikian, jasa dan kebaikannya akan selalu terkenang di hati orang-orang dekatnya, terutama orang yang pernah mengenalnya. (afi)


No comments:

Post a Comment